Cerita ini pertama kali dikisahkan oleh seorang teman penulis bernama Siti
(bukan nama sebenarnya dan penulis perlu merahasiakannya untuk alasan
keselamatan..he..he) saat ia sedang menikmati lezatnya soto di sebuah
warung soto di Kota Gudeg, Yogyakarta. Ia duduk berhadapan dengan
sepasang kekasih, yang dari potongannya bisa ditebak kalau mereka adalah
mahasiwa dan mahasiswi, juga sedang makan soto sambil ngobrol berdua.
Tidak ada yang spesial dari situasi itu, sampai teman penulis mendengar
“ribut-ribut kecil” yang terasa lucu, seperti tergambar dari narasi di
bawah ini:
Cewek: ”Yang, aku tuh sebel sama Dina (bukan
nama sebenarnya, karena penulis takut dituduh melakukan tindakan
pencemaran nama baik atau dituduh melakukan tindakan tidak menyenangkan
:-)), masak dia itu tergantung banget sama aku. Minta ditemenin minum
kopilah. Minta ditemenin ke kampus untuk minta tanda tangan dosen
pembimbinglah. Kan aku perlu waktu untuk ngerjain skripsiku”.
Cowok:
”Ya, dia mungkin ingin kamu lebih rileks aja dalam ngerjain skripsi
dengan ngajak kamu ngopi bareng. Kamu tahu ngak? Dina lebih cepat
ngerjain skripsi ketimbang kamu karena dia ngak kebanyakan ngeluh kayak
kamu”.
Cewek itu lantas menampakkan muka cemberut dan senyum
kecut.....wkkkkk saat menimpali penyataan kekasihnya dengan perkataan
seperti ini: ”Mengapa kamu ngak pacaran aja sama dia”?
Di
tengah enaknya makan soto, teman penulis tidak bisa menahan cekikikan
mendengar percakapan yang dianggapnya lucu itu. Sambil mengambil soto
dari mangkok dengan sendoknya, dia senyum-senyum ngak jelas.
Cowok menjawab: ”Loh aku kan milih kamu sebagai pacarku, bukan dia”.
Tapi
ternyata tanggapan dari cowok itu tak membuat sang cewek mengendurkan
kemarahannya. Karena tidak mau berkonflik terlalu jauh dengan pacarnya,
sang cowok pindah tempat duduk, pura-pura baca koran sambil
mengintip-ngintip pacarnya dari balik lembaran koran.
Pada
hari berikutnya, teman penulis secara tidak sengaja bertemu lagi dengan
kedua pasangan muda-mudi itu di tempat yang sama. Hari itu, giliran dia
memperoleh tatapan sinis dan muka kecut dari cewek yang ribut dengan
pacarnya pada hari sebelumnya..ha...ha.
Di balik cerita lucu ini-tapi mungkin menjengkelkan bagi cewek itu, kita bisa mengulas
sedikit mengenai hubungan asmara antara dua sejoli, terkait dengan
”peran” yang dijalankan masing-masing. Peran, di sini tidak hanya
berhubungan dengan gender-pria dan wanita, yang selanjutnya membawa
bentuk-bentuk perilaku tertentu yang diharapkan atau harus diwujudkan.
Sebagai contoh, biasanya seorang cowok selalu dituntut untuk bisa
melindungi ceweknya dalam segala kondisi.
Melihat kasus di
atas, masing-masing pihak terutama pihak cowok harus bisa “memainkan”
perannya di hadapan ceweknya dengan baik. Peran juga dipengaruhi oleh
situasi dimana hal ini akan menentukan gaya komunikasi diantara mereka.
Kejadian nyata di atas, kalau dilihat dengan seksama, merupakan curhatan sang cewek ke sang cowok untuk sekedar didengarkan, atau untuk
mendapatkan dukungan dari pacarnya dengan empati yang mendalam. Tapi
sang cowok memposisikan dirinya sebagai seorang “teman/ sahabat” dari
ceweknya, bukan seorang kekasih yang seharusnya berbicara dengan bahasa
“hati”. Ia menanggapi curhatan pacarnya secara logis dengan maksud
memberikan jalan keluar yang solutif. Tetapi, hal ini tidak bisa
diterima oleh pacarnya.
Kesimpulannya, repot juga jadi cowok karena
harus paham perannya dalam berbagai situasi.
Hal seperti di atas sering terjadi dalam suatu hubungan, tapi menjadi hal yang “lucu” bagi orang luar yang menyaksikannya :-)


0 komentar:
Posting Komentar